Sunday, May 24, 2009

Tea For Two


Tea For TwoTea For Two by Clara Ng

Paperback, 312 pages
Published February 2009 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN 1097897922 (ISBN13: 9789792243321)

My rating: 2 of 5 stars

Tea for two adalah novel yang sebelumnya diterbitkan sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Saat saya membeli novel ini awal Maret 2009, cerita bersambungnya belum selesai diterbitkan di harian Kompas.

Tea for Two adalah sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Sassy, seorang wanita muda yang enerjik dan bersemangat di tengah hiruk pikuk gemerlapnya kota metropolitan Jakarta. Lewat perusahaannya yang bergerak dibidang event organizer "temu jodoh", ia menghidupi karyawannya dan bisa mengembangkan bisnisnya hingga ke wedding organizer dari klien-kliennya tersebut.

Monday, May 18, 2009

Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya


Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan IsinyaTeologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya by Francis Wahono Nitiprawiro

My rating: 2 of 5 stars

Softcover, 171 pages
Published 2000 by LKiS
ISBN 9798966856


Walau buku ini kecil, namun sangat butuh waktu untuk menyelesaikannya. Ada tiga macam pembebasan yang berkaitan satu sama lain (Hlm 12) yaitu:
1. Pembebasan dari belenggu penindasan ekonomi, dan politik, atau alienisasi kultural, atau kemiskinan dan ketidakadilan.
2. pembebasan dari kekerasan yang melembaga yang menghalangi terciptanya manusia baru dan digairahkannya solidaritas antarmanusia atau lingkaran setan kekerasan.
3. pembebasan dari dosa yang meungkinkan manusia masuk dalam persekutuan dengan Tuhan dan semua manusia.

Isu otonomi daerah dan ketidakpuasan akan pembagian keuangan pusat-daerah bukan sekedar kemerdekaan wilayah, namun pembebasan dari keserakahan dan kekerasan yang melembaga sebagai wajah jahat petualangan ekonomi dan politik nasional maupun globalisasi (Kata pengantar hal 7).

Pengalaman pembebasan dari dunia ketiga di Amerika Latin dan Asia, masih relevan hingga saat ini. Pengaruh globalisasi ternyata menyentuh sendi-sendi pemerataan kesejahteraan yaang diperjuangkan oleh pejuang pembebasan, dan hal itu masih relevan hingga sampai saat ini. Dunia ketiga tetap berjuang.

Sang Musafir


Sang MusafirSang Musafir by Mohamad Sobary

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 272 pages
Published 2007 by PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN 9792230912 (ISBN13: 9789792230918)


Hidup seperti sebuah perjalanan. Setiap manusia yang lahir di dunia ini, kita mengucapkan selamat bagi mereka. Dan bagi yang meninggal dunia, kita mengucapkan selamat jalan, sebab mereka sedang melanjutkan perjalanan kita, dan kita akan bertemu kelak di suatu perhentian.

Berapa lama kita telah berjalan? Apa saja yang kita lihat dan dapat selama dalam perjalanan? Adakah suka dan duka? Adakah membawa kearifan dan kebijaksanaan? Seorang musafir senantiasa percaya bahwa setiap rute perjalanan adalah proses pembelajaran, walau itu saja kadang tidaklah cukup.

Novel ini adalah tulisan Mochamad Sobary yang dikumpulkan sehingga kepingan tersebut menjadi suatu perjalanan. Masa kecil yang indah, mimpi untuk meraih cita-cita. Merantau ke kota meninggalkan kampung halaman tercinta; Memimpin suatu lembaga yang seperi gerobak kelebihan beban; dan proses pencarian Tuhan dalam segi-segi kehidupan.

melihat Pengalamannya memimpin lembaga kantor berita negeri ini menjadi gambaran bagi kita betapa sulitnya mengatur birokrasi. Ia mengalami dilema antara melakukan perubahan, menjadi agent of change, dengan karakter dan watak orang-orang lama di dalamnya. Seperti pejabat negara pada umumnya, ia kadang terlibat hal-hal yang tidak punya dampak langsung pada perbaikan organisasi, seperti menghadiri makan malam dengan orang-orang penting negeri ini, bertemu dengan Dubes dan sebagainya. Sementara itu, ia harus memikirkan mengenai keuangan lembaganya yang ia nilai tidak efisien.

Berbagai kepenatan dan kejenuhan dalam kesibukan, akhirnya ke rumah ia berpulang. Ia sangat menyukai berkumpul dengan keluarga. Ia sering meminta adik-adiknya untuk berkumpul di rumah dinasnya. Ia senang suasana kampung dibawa ke rumahnya, namun ia sendiri memilih menyendiri di kamar lain, mendengar dari kamar celotehan adik-adiknya dan saudara iparnya.

Novel ini sarat dengan spritualisme. Kelihatan sekali Sobary sangat dipengaruhi oleh ajaran guru agama dan meniru teladan orangtuanya, dan itu ia terapkan dalam menjalani hidupnya seperti musafir itu. Dan perjalanan masih berlanjut.......

Christ the Lord: Out of Egypt


Christ the Lord: Out of EgyptChrist the Lord: Out of Egypt by Anne Rice

My rating: 3 of 5 stars

Paperback, 392 pages
Published December 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 2005)


Judul Asli: Christ the Lord Out of Egypt: A Novel
Kristus Tuhan Meninggalkan Mesir
Pengarang: Anne Rice
Alih Bahasa: Esti Ayu Budihabsari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I: 2006
392 hlm; 20 cm

Bagaimana cara kita mengenal seseorang? Ada banyak cara. Hal yang paling umum dilakukan adalah dengan berkenalan langsung, bercakap-cakap dengannya, bertukar pikiran, ide, dan pengalaman, dan mungkin saja mengajaknya berjalan-jalan. Namun bagaimana mengenal tokoh yang sudah muncul ke dunia ini sebelum kita lahir? misalnya, bagaimana cara kita mengenal bapak pendiri bangsa ini? jawabnya tentu saja dengan membaca kisah hidupnya yang ditulisnya sendiri atau yang ditulis orang lain, atau dengan membaca buah-buah pikirannya dalam berbagai tulisan.

Menarik sekali membicarakan tokoh yang menjadi pusat utama novel ini. Yesus Kristus. kehidupannya yang cuma 33,5 tahun di dunia, menjadi buah pembicaraan orang dari masa ke masa. Tulisan-tulisan tentang perjalanan hidupnya dibuat oleh murid-muridNya dalam keempat Injil di Alkitab.

Anne Rice, seorang penulis Amerika terkenal, adalah seorang yang tumbuh di keluarga Katolik Ibrani-Amerika yang menghabiskan masa kecilnya di New Orleans. Anne Rice sendiri terlahir dengan nama Howard Allen O'Brien pada 4 October 1941. Nama Anne bermula ketika seorang nun (anggota dari komunitas wanita yang berjanji melayani Tuhan sepanjang hidupnya) menanyakan Anne, siapa namanya. ia menjawabnya, "Anne." Sejak itu, nama yang dikenakannya adalah Anne, bukan Howard Allen. Sedangkan Rice adalah nama suaminya, Stan Rice, yang tadinya seorang ateis namun karena cintanya pada Anne, ia meneguhkan kembali janji pernikahannya dalam agama Katolik.

Novel ini menceritakan perjalanan Yesus dan keluarganya keluar dari Tanah Mesir. Peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan Herodes pada masa kelahirannya, membuat orangtuanya-Maria dan Yusuf- bersama-sama saudara-saudara yang lain untuk mengungsi ke Mesir. Tujuh tahun di Mesir, mereka kembali pulang ke tanah leluhur. Keputusan kembali lagi ke Galilea karena pertimbangan bahwa Herodes sudah digantikan oleh anaknya, dan anaknya tidak "seganas" ayahnya.

Perjalanan pulang ke Yerusalem, bersamaan waktunya dengan perayaan Paskah. Mereka mengunjungi Bait Allah. Paskah pada saat itu adalah peringatan keluarnya Bangsa Israel dari Tanah Mesir. Setelah itu, Mereka mengunjungi Elisabet, sepupu Maria. Elisabet sudah sangat tua, dan ia menyerahakan anaknya, Yohanes bin Zakharia kepada kaum Ennese untuk belajar agama.

Perjalanan ke Bait Allah untuk pertama kali setelah keluar dari Aleksandria sangat tidak menyenangkan. Pada saat itu, tentara menyerbu kesana, puluhan orang mati, dan itu disaksikan oleh Yesus dan keluarganya. Untungnya, tidak ada yang mati dari antara mereka. Namun, ha itu membuat trauma yang mendalam dalam hati mereka.

Nazaret. Itulah kota yang dituju oleh mereka. Banyak bekas-bekas bangunan yang ditinggalkan oleh pemiliknya karena serangan dari tentara Romawi. Profesi Yusuf sebagai tukang kayu sangat strategis. Ia banyak menerima pesanan untuk membangun kembali rumah-rumah yang sudah rusak. Ia dibantu oleh saudara-saudara yang lain, Kleopas, Alfeus, Simon beserta anak-anak mereka yang juga adalah sepupu Yesus.

Banyak pertanyaan dalam hati Yesus kecil yang tidak terjawab, ketika ia menanyakannya, ia mendapat jawaban, bahwa ia akan menerima jawabannya jika nanti sudah dewasa. Satu-persatu pertanyaan dalam hatinya mulai terungkap.
Mengapa malaikat mendatangi Maria ibu Yesus,
Mengapa ia lahir di Bethlehem,
Mengapa Orang Majus tidak kembali lagi ke Herodes setelah pulang mengunjungi bayi Yesus,

Menulis novel dengan riset. Itulah yang dilakukan oleh Anne Rice. Buku yang berjudul Jesus of Nazareth, King of the Jews, mengawali mimpinya untuk menulis "biografi" Yesus dalam sebuah karya novel. Disamping itu, dengan pengumpulan bahan-bahan dan sumber-sumber lain ia belajar banyak hal dalam melakukan penyusunan novel itu.

Penggambaran suasana kota dan Bait Allah sangat jelas. Kelihatan sekali Anne menjiwai suasana masa itu. Anne sangat pintar menceritakan detil kondisi tempat dan suasana yang terjadi.

Novel yang menarik, namun menurut saya agak sulit menggambarkan hubungan tokoh-tokoh itu. Misalnya sepupu-sepupu Yesus, tidak diceritakan dengan jelas siapa ayah dan ibunya, kita harus siap dengan secarik kertas dan pulpen untuk menggambarnya bagan-nya, namun tidak mengurangi keasyikan untuk menyelesaikannya hingga halaman terakhir.

Wednesday, May 13, 2009

Dimsum Terakhir


Dimsum TerakhirDimsum Terakhir by Clara Ng

My rating: 3 of 5 stars

Softcover, 361 pages
Published April 19th 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 2006)
ISBN 9792220690


Sebelumnya saya tidak tahu manakah yang disebut dimsum itu, sampai suatu saat saya pernah memakannya di sebuah rumah makan dan saya menyukainya. Sebuah iklan di Hotel Borobudur makan dimsum sepuasnya (all you can eat) sebesar 200ribuan, saya hanya membayangkan dimsum yang tadinya sebagai makanan khas imlek, menjadi makanan mewah di hotel adalah suatu keistimewaan atau kebanggaan bagi masyarakat Tionghoa.

Empat orang anak kembar. Empat model karakter. Tidak ada hubungan antara anak kembar dengan kesamaan fisik maupun cara pikir. Empat orang anak kembar itu adalah Siska, Indah, Rosi, dan Novera. Yang pertama kali keluar dari rahim Anas, ibunya adalah Siska, selanjutnya Indah, Rosi, dan Novera. Mereka besar di daerah Kota, dekat daerah Petak Sembilan. Mereka tumbuh dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Siska dikenal cerdas, pekerja keras, suka ingin tahu. Indah, melankolis, yang sangat menguntungkannya menjadi penulis dan wartawan. Rosi, gadis tomboy namun memiliki kebun mawar di Puncak, Novera, paling lembut dari antara saudara-saudaranya, namun paling keras kepala.

Ibu mereka lebih dahulu meninggal. Ayahnya, Nung tinggal seorang diri. Keempat anaknya masing-masing punya kehidupan sendiri. Siska memiliki bisnis di Singapura. Indah berprofesi sebagai wartawan tinggal di Jakarta, namun tidak tinggal bersama ayahnya. Rosi, mengurus kebun mawarnya di Puncak, Novera, mengajar taman kanak-kanak di Yogyakarta.

Suatu hari, tetangga mereka membawa ayahnya, Nung, kerumah sakit. Dari sinilah cerita tentang reuni keeempat saudara kembar dimulai. Mereka bergantian merawat ayahnya di rumah. Konflik-konflik muncul. Terutama ayahnya berpesan, kalau ayahnya berkeinginan melihat mereka menikah sebelum meninggal. Masing-masing mereka memiliki problem pribadi yang sangat tidak sederhana. Demi sang ayah, Novera mengaku pada ayahnya bahwa ia akan menikah dengan calonnya. Padahal, ia sendiri masih ragu akan perasaannya itu, karena ia tidak merasa "lengkap" untuk menikah. Hal seperti itu juga terjadi pada saudara-saudaranya.

Kwjujuran, simpati, tanggung jawab, rela berkorban, adalah nilai-nilai dari novel ini. Clara Ng sangat cerdas memilih topik yang dikemukakan dalam penceritaan novel ini. Banyak hal yang selama ini mungkin tabu dalam masyarakt, namun CLara berhasil menempatkannya dengan apik dalam penokohan keempat saudara kembar ini.

Novel ini bagus dibaca. Teman saya bertanya, "Berat nggak novelnya?"
"Ya nggaklah, orang bisa cuma 3 ons" Jawab saya.
Novel ini jauh dari kesan berat, saya merasa banyak wawasan saya bertambah tentang keluarga Tionghoa. Namun yang menggelitik saya, apakah dalam persaudaraan kembar, akan ada suasana superior dimana kakak sulung (kembar) berhak mengatur adik-adiknya seperti saudara non kembar pada umumnya? Saya tidak tahu, karena saya tidak punya saudara kembar. :)

Sunday, May 10, 2009

Gereja-gereja Tua di Jakarta


Gereja-gereja Tua di JakartaGereja-gereja Tua di Jakarta by Adolf Heuken
My rating: 4 of 5 stars

Gereja-gereja Tua di Jakarta
Seri: Gedung-gedung ibadat yang tua di Jakarta
Yayasan Cipta Loka Caraka
2003
240 hlm


Orang yang tidak mengenal masa lalu, akan kehilangan masa depannya

inilah kalimat dalam pembuka buku ini. Adolf Heuken, seorang pastor berkebangsaan Jerman, sangat menyukai sejarah. Baginya, tempat dimana ia tinggal, ia harus mengetahui asal muasalnya. Sewaktu ia tinggal di Mangga Besar, ia bertanya pada orang di sekitarnya tentang latar belakang Mangga Besar. Ia tidak puas, karena jawabannya macam-macam dan bervariasi.

Akhirnya, ia melakukan riset sendiri. Mengumpulkan buku-buku dan artikel dan menelusuri kembali Jakarta, ia menulis buku tentang Jakarta tempo dulu. Akhirnya ia sendiri lebih terkenal sebagai seorang penulis dibandingkan sebagai seorang pastur.

Bersama Yayasan Cipta Loka Karya yang didirikannya, ia menulis serta menerbitkan buku buku antara lain Kamus Dwibahasa Indonesia-Jerman (ditulis bersama E.R.T. Sinaga; buku ini sangat populer dan bajakannya dapat dijumpai di mana-mana) dan kebalikannya, Deutsch-Indonesisch Wörterbuch, serta buku mengenai sejarah Jakarta: Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Selain itu ia juga membuat bibliografi mengenai sejarah Jakarta berjudul Sumber-sumber asli sejarah Jakarta. Ia juga menulis buku sejarah mengenai gereja dan masjid tua di Jakarta. Untuk kalangan internal katolik ia menulis pula Ensiklopedia Katolik dan Jungen für Christus: Ein Buben-Buch yang ditulisnya bersama Roman Bleistein.

Buku ini adalah buku pertama dari trilogi seri Gedung-gedung ibadat yang tua di Jakarta. Dalam buku ini, kita mengetahui mengapa ada Gereja Portugis di Batavia kala itu,padahal yang berkuasa adalah Belanda. Salah satu peninggalan gereja Portugis ada di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Besar.

Dari bacaan ini kita juga diajak untuk menghargai bangunan-bangunan kuno di Jakarta, karena pemerintah sendiripun tidak memberi perhatian untuk itu. Dicetak di atas kertas lux, sehingga enak dibaca. pembaca juga diajak berimajinasi dengan melihat lukisan-lukisan kuno (sebagai pengganti foto) Batavia.

Pada penutup kata pengantarnya, Adolf Heuken mengatakan,
semoga sajian ini merangsang orang untuk menggiatkan penyelidikan sejarah. Siapa tahu, fakta baru mungkin ditemukan

Wednesday, May 6, 2009

Yakuza Moon: Memoirs of a Gangster's Daughter


Yakuza Moon: Memoirs of a Gangster's DaughterYakuza Moon: Memoirs of a Gangster's Daughter by Shoko Tendo
My rating: 3 of 5 stars

Yakuza Moon
Oleh Shoko Tendo
Penerbit: Gagas Media
cetakan Kedua 2008
245 hlm
ISBN 979-780-268-X
---------------------

Yakuza adalah suatu kelompok (preman) yang berkembang di Jepang pada kurun waktu....s.d..... Namun, hingga sekarang masih terdapat juga kelompok Yakuza yang hidup di Jepang. Berlatar tahun 1960 s.d. 1980-an, Shoko menceritakan suka dukanya sebagai seorang putri dari keluarga Yakuza dalam sebuah novel. Novel ini menjadi semacam autobiografi keluarga yakuza dari kemegahannya, jatuh, dan bangkit kembali.