Monday, September 20, 2010

Ular Keempat


Ular KeempatUlar Keempat by Gus tf Sakai
My rating: 4 of 5 stars

196 pages
Published 2005 by KOMPAS Penerbit Buku Kompas
ISBN 0979709224


Ular Keempat ini memiliki cover yang boleh dibilang kurang menarik. Ini juga yang membuat saya awalnya tidak tergerak membacanya. Ada gambar ular, dan sebuah topeng (menurut saya). Versi elektronik novel ini tersedia di internet, walau dengan tampilan yang kurang menarik, dapat dilihat di situs ini.

Novel ini ditulis dengan menyertakan fakta peristiwa sejarah dan kemudian menjalinnya dengan kehidupan masyarakat. Peristiwa yang menjadi titik tolak adalah perjalanan haji Indonesia ke Saudi Arabia Januari 1970.

Ada apa di seputaran tahun tersebut?
Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Kapal Gambela. Bermula dari keinginan Pemerintah untuk menyatupintukan pelayanan haji nasional. Sebelumnya pelayanan haji dilakukan oleh pihak swasta. Namun ada ketidakpuasan dari para jemaah haji berkaitan dengan pelayanan yang diberikan. Hal yang memicunya adalah batalnya berangkat jemaah haji yang menggunakan jasa swasta terutama ICA dan Mukersa. Saat itu pihak swasta yang beroperasi adalah PT Arafat dengan kapal laut, ICA (International Civil Transport Asia) dengan pesawat udara dan Mukersa (Musyawarah Kerja Sama Haji). Hal itu memicu dikeluarkannya Kepres No. 22 Tahun 1969 yang menyatakan bahwa keseluruhan penyelenggaraan urusan haji hanya dilaksanakan oleh pemerintah.

HUSAMI (Himpunan Usahawan Muslim Indonesia) mempelopori penyelenggaraan haji murah. HUSAMI dikoordinir oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara, yang juga pernah menjabat sebagai Presiden PRRI yang berbasis di Koto Tinggi, Kabupaten Limopuluah Kota, Sumatra Barat. Lewat HUSAMI, diberangkatkan 712 calon haji ke Saudi Arabia pada Januari 1970. Paracalon haji dianggap ilegal. ketika calon haji sudah tiba di Singapura, dipaksa pulang ke Indonesia. Ketika kapal berbalik ke Indonesia, diplomasi dilakukan oleh tokoh agama akhirnya mereka diberangkatkan ke Jeddah dengan menggunakan Kapal Gambela yang berbendera Singapura. Sekembalinya ke tanah air 712 haji itu dipaksa menandatangani formulir permintaan maaf kepada pemerintah. Gus tf Sakai melampirkan kliping berita media cetak yang berkaitan dengan peristiwa tersebut pada akhir buku ini (hlm 187-191).

Novel ini sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Media Indonesia pada tahun 2005. Bercerita sebagai tokoh sentral adalah Aku, Haji Janir. Haji Janir adalah seorang pengusaha lepau (rumah makan) padang yang berkesempatan untuk berangkat ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Seperti yang dikatakan oleh McCormick (1994) bahwa Spiritualitas adalah sebuah pengalaman batin dari seorang individu yang bisa dibuktikan dari perilaku-perilaku (keseharian)nya. Selain itu, McCormick mengatakan bahwa ada kontribusi yang besar tentang pentingnya spiritual seseorang yang berpengaruh pada psikis seseorang dalam bekerja. Hal inilah yang sedang dialami oleh Janir dan dengan ratusan calon haji yang berangkat ke Tanah Suci. Ada perjalanan spiritual yang tidak hanya ternyata tidak hanya urusan pribadi antara masing-masing individu dan Sang Pencipta. Tetapi juga pihak lain, keluarga, guru, sahabat, rekan sejawat, dan tak ketinggalan pemerintah dalam hal ini Departemen yang terkenal dengan urusan perjalanan haji.

Gus tf Sakai menampilkan spiritualisme yang dilakoni oleh Janir. Terlahir dari keluarga yang cukup kuat di bidang agama, punya masa kecil yang menyenangkan dan bahagia. Beruntung ia mendapatkan pelajaran agama yang kuat sejak kecil, karena ia dikelilingi lingkungan yang sangat mendukung. Mengaji dan sholat, dua jenis aktivitas itu tidak luput dari kehidupannya.

Guru Muqri, tokoh yang ia temui di tanah suci, memberikan tiga kisah. Seperti janji sebelumnya pada Janir, bahwa ia akan memberikan tiga kisah pada Janir, jika ia berhaji tahun depannya. Ia mendapat tiga kisah itu, satu demi satu lewat peristiwa yang tidak ia duga. Sepotong kisah yang ditulis dalam surat, ternyata membawa imajinasi ke alam mimpi Janir. Apa yang mengusiknya selama di tanah suci adalah mimpinya akan kedatangan seekor ular dan seorang guru yang membenci murid-muridnya,

aku tersentak. aku tersentak dari mimpi yang sangat ganjil. ular? ya, ular. tetapi bukan ular seperti ular sebenarnya di dunia nyata. melainkan ular yang ...
berpuluh-puluh tahun beratus-ratus tahun mendesis menjalar, menggoda manusia!
beribu-ribu tahun berjuta-juta tahun menjalar dan melata, menipu, membelit,
menyesatkan manusia! tubuhku basah. berpeluh ....


...setelah kuulang dan kuulangi lagi, aku hanya tahu bahwa bagian terakhir cerita menggambarkan bagaimana inginnya sekelompok murid memperoleh malam yang mulia:malam lailatulkadar, malam seribu bulan. tetapi, di bagian penutup, guru mereka merasa benci. kenapa guru mereka benci?
kuulang dan kuulangi lagi. tetapi tetap aku tak paham. kuulangi lagi. dan mataku tertumpu pada:
... "inilah aku, yang akan datang lebih dulu." dan bagai kesurupan, serupa kesetanan, masing-masing mereka kian memacu tunggangan .... berhari-hari, berminggu-minggu mereka berpacu. berbulan-bulan, bertahun-tahun mereka berpacu.hanya berpacu. serupa kesurupan. seperti kesetanan. ada air ada makanan, tetapi mereka bagai tak haus juga tak lapar. tak pernah mereka singgah. ada halte ada stasiun, tetapi mereka terus. ada kehidupan ada kematian, tetapi mereka ngebut di kesendirian ....
tidakkah bagian ini menggambarkan bahwa, murid-murid itu ternyata sangat egois? demi dan untuk diri mereka, mereka bahkan tak peduli pada apa pun. ada kehidupan ada kematian tetapi mereka ngebut di kesendirian. di kesendirian. murid-murid itu a-sosial. mereka tak mementingkan hubungan antarmanusia. bahkan sebelumnya disebutkan pula bagai kesurupan serupa kesetanan. apakah dugaanku benar? hal itukah yang membuat sang guru menjadi benci? (Hlm 113-114)


Mimpi itu menyentak Janir, dan membuat pertanyaan dalam dirinya kembali, hingga datang lagi dalam mimpinya seekor ular.

...dan coba ingat, di lorong kepalamu, apakah yang pertama mengesankanmu tentang haji? ya! kau dibawa ibumu mengantarkan saudara jauh ayahmu melepas si saudara jauh ayah ke teluk bayur pergi haji. betapa membanggakan! biasanya hanya famili-famili terpilih, hanya saudara-saudara terpilih, yang diajak si keluarga calon haji
melepas si calon haji beramai-ramai ke pelabuhan. dan ke teluk bayur! ke padang! itulah perjalanan pertamamu melihat kota, melihat tempat yang begitu banyak gedung, rumah-rumah bulek, bangunan-bangunan yang terbuat dari tembok, yang membuat kau terkagum-kagum tercengang-cengang.
bangga. alangkah bangganya melihat kota. bangga. alangkah bangganya kalau kelak di kemudian hari juga bisa berhaji! hanya itu, hanya itu isi benakmu...

Dan apakah itu suatu kebetulan dan apakah itu bentuk komunikasi antara Yang Mahakuasa? hal itu tidak dapat dipahami oleh Janir, kala ia menemukan bahwa Gur Muqri mengetahui suatu warisan budaya Minangkabau, "tambo". Kata tambo atau tarambo dapat juga bermaksud dengan sejarah, hikayat atau riwayat. Maknanya sama dengan kata babad dalam bahasa Jawa atau Sunda (Wikipedia). Dimana Didasarkan pada salah satu entri yang hilang tentang permainan layang-layang yang seharusnya masuk dalam bab permainan rakyat tapi anehnya ada dalam bab kepemimpinan.

apa yang perlu saya sampaikan juga adalah, mungkin tuan tak mendapat gambaran yangtepat tentang negara tuan. tetapi ke depan, dalam pandangan saya, akan seperti itulah negara tuan. dan bukan tak ada alasan saya mengambil cerita dari tradisi di kampung tuan, tetapi memang kisah yang tersembunyi dalam tambo itulah yang menurut
saya paling tepat untuk dicontohkan.


ada pelajaran penting disana tentang permainan layang-layang. Tidak sesederhana menaikkan atau mengulur benang pada layang-layang, namun ada nilai disana.

kayu-kayu galah yang menghubungkan aku dengan layang-layang, takhta keabadianku. kau lihatkah mereka kemudian memperebutkannya? hua-ha-ha... semua merasa berhak, semua ingin memiliki.

Janir dan rombongan kembali pulang. Pulang dengan serangkaian pertanyaan di benak Janir. Namun, kehidupan terus berjalan. Ia kembali lagi pada usaha rumah makannya. Ia kembali mempekerjakan orang-orang yang tadinya harus ikut kehilangan pekerjaan karena rumah makannya tutup.

...langganan yang selama dua bulan lebih entah makan di mana, kini telah kembali ke tempat kami.

Tentunya tidak hanya langganan yang tidak makan. Anak-anak semangnya juga.

Dalam novel ini diceritakan bahwa ada sifat-sifat yang jahat, yang merusak, dan yang berbahaya pada perjalanan spiritual seseorang. Dalam hal ini, Sakai mencontohkan perjalanan seorang pemuda Minang yang berhasil naik haji. Gus tf Sakai tentunya tidak sulit mengamati apa yang terjadi pada spiritualisme yang di daerah sendiri dibandingkan dengan daerah lain. Ia dengan pintar meramu haji, masa kecil, peradatan minang, serta nilai-nilai yang dianut orang Minang dalam sebuah novel.

Gustafrizal Busra, lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 13 Agustus 1965. Untuk puisi ia menuliskan nama Gus tf. Ketika datanyakan oleh sebuah mass media mengapa ia memakai dua nama, Gus tf untuk puisi dan Gustf Sakai untuk prosa, ia berkata pendek, “Untuk sugesti biar keduanya serius pada bidangnya.” Walaupun ia hidup tidak berkecukupan, namun ia sangat menikmati profesinya. Ia pun mejadi sastrawan yang menonjol di generasinya. ” Ayahnya bernama Bustamam dan ibunya Ranjuna. Ayahnya yang petani meninggal ketika sastrawan ini masih kanak-kanak dan bersama sembilan saudaranya ia kemudian dibesarkan oleh ibunya yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional. Saat ini ia menetap di Payakumbuh bersama istri dan ketiga anaknya.

Novel beliau ini banyak memuat kutipan yang saya sendiri tidak tahu darimana namun bagus. Sangat terasa kutipan tersebut bersumber dari pemikiran dan refleksi diri terhadap Sang Pencipta. Walau saya dibingungkan dengan banyaknya kutipan-kutipan yang terdapat di buku ini, Akhirnya saya memberikan empat bintang.

@hws20092010

Friday, September 10, 2010

The Professor and The Madman


The Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English DictionaryThe Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary by Simon Winchester

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 342 pages
Published 2006 by Serambi (first published 1998)
ISBN 9791112533


Saya sampai lupa dimana buku ini dibeli, sempat mengintip review dari teman GRI, saya baca reviewnya Pak Tanzil, dan memutuskan membaca buku ini. Saya salah. Tadinya saya mengira buku ini adalah novel, ternyata buku ini adalah semacam "pengantar" pada suatu kisah besar penciptaan kamus yang dianggap termashyur abad ini, yaitu The Oxford English Dictionary (OED).

Ditulis oleh Simon Winchester, Ia lahir di London Utara pada 28 September 1944, terlahir sebagai anak tunggal Bernard and Andrée Winchester (née deWael). Ia adalah seorang jurnalis yang juga alumni dari Oxford University dari jurusan Geologi. Selepas dari Oxford, ia bekerja di perusahaan pertambangan Kanada, Falconbridge dan bertugas sebagai geologist lapangan di pertambangan Uganda, Afrika. Selanjutnya ia menjadi junior reporter di The Journal. Kegemarannya traveling dan profesi sebagai jurnalis membawanya pada tempat-tempat menarik di dunia. Dari situs Wikipedia diketahui, bahwa selama kurun waktu 1980 hingga 1990 an ia menulis beberapa buku travel di Asia Pasifik.

Buku kecil ini memceritakan secara singkat apa dan bagaimana Kamus yang tersohor di seluruh dunia, The Oxford English Dictionary ada. Sejarah penulisan kamus ini terbilang sangat panjang. Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt, tampaknya berpengaruh pada suatu bentuk identitas Inggris sebagai muara ilmu pengetahuan, termasuk diantaranya di bidang linguistik. Pada awal abad 19, hanya Inggris yang di negara Eropa yang belum memiliki kamus bahasa. Negara Eropa lain seperti Jerman, Italia, Perancis, sudah lebih dulu "mengawetkan" bahasa mereka, bahkan sampai mendirikan institusi untuk mengontrol integritas bahasa (Hlm 133).

Mungkin hampir mirip dengan yang kita kenal sekarang semacam standar operasi atau standar profesi. Kebutuhan kamus tersebut muncul karena pada masa akhir abad 17, penulis menulis tanpa panduan sama sekali. Penulis sekaliber Shakespeare pun tidak punya argumentasi logis mengapa ia menggunakan kata "In the south suburbs at the Elephant/Is best to lodge" (Hlm 124) pada karya Twelfth Night.

Singkatnya, tidak ada panduan yang tercetak mengenai bahasa, tidak ada vade mecum linguistik, tidak ada satu buku pun yang bisa dijadikan referensi oleh Shakespeare atau Martin Frobisher, Francis Drake, Walter Raleigh, Francis Bacon, Edmund Spencer, Christopher Marlowe, Thomas Nash, John Donne, Ben Johnson, Izaak Walton, atau siapapun pada masa itu (Hlm 123).

Namun, bukan berarti tidak ada kamus pada zaman itu. Jika ada kata yang digunakan oleh sastrawan di atas, belum ada kamus yang bisa pada tahap menetapkan, mendefinisikan, dan memapankan penggunaan kata tersebut. Ada berbagai buku yang berfungsi kurang lebih sebagai kamus, antara lain Dictionarius pada tahun 1225. Di tahun 1538, kamus Latin-Inggris disusun oleh Tomas Elyot, A Shorte Dictionaire for Yonge Beginners disusun oleh Withal, A Table Alphabeticall ... of hard unusual English Words, disusun oleh Robert Cawdrey. Definisi yang diberikan buku tersebut kurang memuaskan, beberapa kamus menyadurkan satu kata sinonim atau sinonim yang kurang memberikan penjelasan yang memadai (Hlm 131).


Samuel Johnson (September 1709 December 1784)) menerbitkan A Dictionary of the English pada Tahun 1746, yang dianggap sudah berhasil memotret bahasa Inggris dengan segala kemegahan, keindahan, dan kerumitannya. Kamus ini cukup terkenal di Inggris hingga ke Amerika. Inilah karya yang menjadi titik tolak bagi sejarah bahasa Inggris untuk menerbitkan suatu standar bahasa nasional Inggris. Para pakar bahasa menyatakan pentingnya bahasa harus diberi martabat dan penghormatan yang setara dengan standar lain. Pada masa itu, di dunia sains para ilmuwan sedang bertanya, seberapa panas air mendidih? Para musisi sedang mendefinisikan bagaimana standar C mayor atau C minor. Selain itu, Pemerintah Inggris membentuk suatu badan yang bertugas membuat garis bujur untuk kepentingan pelayaran dan perdagangan. Badan itu dinamakan The Board of Longitude yang lebih populer dengan nama The Commissioners for the Discovery of the Longitude at Sea (1714-1828). Para tokoh sastra menganggap, jika garis bujur saja pemerintah begitu berkepentingan, pendefinisian warna, panjang, massa itu vital, mengapa bahasa nasional tidak diberi tempat yang sama?

Berbagai perdebatan muncul. Ada yang mengkritik, tetapi ada yang berinisiatif bekerja keras mulai menyusun mimpi itu. Johnson membentuk tim untuk mulai bekerja mengumpulkan kata demi kata dari seluruh karya sastra yang bertitik tolak pada terbitan tahun 1586 karena dianggap sastrawan pertama yang terbaik pada saat itu, Sir Philip Sidney meninggal pada 1586. Metodologi yang digunakan oleh Johnson adalah sebagai berikut: Membaca buku-buku, menggarisbawahi serta melingkari kata-kata, membubuhi kata-kata dengan catatan, dan menyuruh pembantunya untuk menyalin di atas slip kertas kalimat lengkap berisi kata yang diseleksi (Hlm 145).

Siapa yang disebut The Professor?

The Professor adalah James Murray (7 February 1837 – 26 July 1915). Ia adalah seorang Scottish lexicographer and philologist. Pada usia 17 tahun sudah mengajar bahasa Inggris di Hawick Grammar School dan tiga tahun kemudian menjadi kepala sekolah di sana. Dalam usia 32 tahun di 1869, ia menjadi anggota Philological Society, suatu organisasi yang beranggotakan ahli bahasa (filologist). James Murray melanjutkan proyek pembuatan kamus yang sudah digagas oleh Richard Chevenix Trench. Idenya adalah merekrut ratusan ribu amatir yang semuanya bekerja sebagai voluntir, yang bekerja mencatat setiap kata dari sumber manapun untuk diseleksi oleh tim editor yang sudah ditentukan. Trench berfilosofi bahwa setiap kamus besar yang baru harus merupakan produk demokrasi, buku yang memperlihatkan unggulnya kebebasan individu, pengertian bahwa seseorang dapat memakai kata-kata secara merdeka, tanpa ditundukkan aturan leksikal yang kaku (Hlm 159). Berikut ini gambar Murray di Scriptorium di Banbury Road, tahun 1880-an. Perhatikan banyak sekali kertas-kertas yang ada dilemari.

description

Sebelum James Murray sudah ada nama-nama seperti Frederick Furnivalll dan Herbert Coleridge. James Murray ditunjuk oleh Furnivall untuk menjadi kepala editor. Ia membuat tempat yang bisa menampung ribuan slip kertas dari voluntir, untuk diklasifikasikan dan diseleksi. Selanjutnya hasil seleksi tersebut dibuat secara alfabet dan ditawarkan ke penerbit, antara lain ke Macmillan dan Oxford. Oxford saat itu dinilai pelit, sok intelek, dan sering merendahkan orang (Hlm 165). Bagaimana bisa sampai ke Oxford, silahkan dibaca lebih lanjut pada bagian "Konsep Kamus Besar".

Lalu Siapa yang disebut The Mad Man?

Tokoh inilah yang "sengaja" diangkat oleh Simon Winchester, karena namanya tenggelam oleh nama besar Sang Founding Father. Yang dimaksud adalah seorang leksigrafer amatir yang terpelajar namun mengalami gangguan jiwa. Ia bernama Dokter (Purnawirawan) Kapt. US Army, William Chester Minor (Juni 1834 - 26 Maret 1920). Penelusuran pada tokoh ini sangat mengejutkan, ia adalah seorang ahli bedah tentara Amerika yang banyak memberikan kontribusi ilmiah ke OED, sementara ia ada di rumah sakit jiwa. Inilah foto beliau, yang bersumber dari Wikipedia, sama dengan foto yang ada di cover buku.

description


Mengapa ia menderita sakit jiwa, itu dipaparkan oleh Winchester di bagian "Sarjana di Blok Muda." Secara ringkas, Minor adalah seorang anak dari keluarga misionaris, belajar kedokteran di Yale university, dan selanjutnya masuk US Army. Pengalaman buruk ketika bertugas di Wilderness, ia membubuhkan cap dari besi panas pada seorang serdadu Irlandia yang diduga desersi. Ia begitu frustasi bila mengingat hal itu, dan itu mempengaruhi kejiwaannya. Ia keluar dari ketentaraan dan memilih pergi ke Inggris, ke tempat nenek moyangnya. Suatu saat ia membunuh George Merret, seorang buruh di Inggris, karena Minor merasa terancam ketika melihat Merret. Artikel Simon Winchester mengenai William Minor dapat dilihat disini

Hukumanpun dijatuhkan, namun berhubung Minor mengidap penyakit kejiwaan-yang saat itu belum dapat diidentifikasi-, ia mendekam di rumah sakit jiwa (asylum) di Broadmoor. Namun, ada kalanya ia bersikap santun dan waras. Berhubung ia adalah pensiunan tentara Amerika, ia mempunya uang yang cukup untuk membangun perpustakaan pribadi di kamar di Rumah Sakit Jiwa tersebut. Suatu hari ia menerima selebaran yang meminta kesediaan sebagai voluntir OED. Ia menyambut baik, koleksi bukunya sangat banyak dan sangat beragam. Ia menjadi kontributor yang paling setia dan kata-kata yang dikirimkannya selalu lolos dari editor.

James Murray merasa perlu bertemu langsung dengan kontributornya itu. Sebab selama ini hanya surat dan goresan pena yang diterimanya dari Minor. Ada suatu kisah pertemuan mereka yang (masihkah?) menjadi mitos, ditulis pada awal buku ini.

Hasilnya bisa dilihat sekarang, ternyata Kamus yang legendaris sepanjang masa itu dibuat oleh kumpulan orang-orang yang rela dan gigih, terlebih mencintai pekerjaannya. Dan untuk itu, kerja keras mereka dapat dinikmati oleh pengguna ilmu pengetahuan bahasa hingga kini.

Penutup
Seperti yang ditulis oleh Simon Winchester pada kata pengantarnya, bahwa ia tertarik menulis buku ini, karena ia membaca buku karangan Elizabeth Murray, Caught in the Web of Words. Mungkin karena ia seorang jurnalis, ia akan menghubungkan tokoh dan peristiwa, seperti halnya buku di atas, bahwa James Murray adalah Founding Father-nya OED.

Buku ini sangat bagus, terutama penyajiannya yang ringan khas reportase jurnalis modern. Dari kisah ini ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran,
1. Minor menebus rasa bersalahnya karena membunuh George Meret dengan menyantuni jandanya. Apa dampaknya? Nilai meminta maaf dan mengampuni memiliki dampak besar. Mrs. Merret mengunjungi Minor secara teratur di Broadmoor, dan juga membawakan Minor buku-buku dari pedagang antik di London. Bisa dikatakan, Mrs. Herret turut berandil dalam penyusunan kamus Oxford.
2. Keadaan ironis, dimana karya besar dilahirkan dari tempat yang tidak kondusif, yakni rumah sakit jiwa. Penyakit jiwa yang dialami Minor, tentunya dulu tidak ditangani dengan ilmu psikiatri modern. Bila ia dirawat dengan benar, niscaya ia tidak akan menghasilkan sumbangan bermutu terhadap kamus Oxford. Dalam sudut pandang tertentu, Minor menggarap kamus tersebut sebagai terapi atas penyakit jiwa yang dideritanya. Ini menunjukkan suatu perjuangan Minor yang tidak menyerah pada keadaan yang paling sulit sekalipun untuk tetap berkarya,

Terjemahannya juga relatif bagus, namun ada juga beberapa kalimat yang kurang enak dibaca, dan karena itu saya kurangi bintangnya satu.
regulasi Kanto Pos (hlm 201)

Pada akhir buku, Simon menambahkan beberapa buku lain yang menjadi rujukan:

- Chasing the sun: dictionary makes and the dictionaries they made oleh Jonhattan Green
- MURRAY, K. M. ELISABETH: Caught In The Web Of Words: James Murray And - The Oxford English Dictionary. Yale University Press. New Haven and London: 1978.
- Empire of Words_The Reign of the OED oleh John Willinsky
- The Battle of Wilderness oleh Gordon C Rhea
- The American Heritage of the Civil War oleh Brice Catton dan James M. Macpherson.
- London: A Social History oleh Roy Porter

Buku yang berkaitan dengan kejiwaan:
Origin of Mental Illness oleh Gordon Claridge
Master of Bedlam oleh Andrew Scull

Bagi saya, buku Winchester ini adalah pengantar yang menggoda.

@HWS01092010

Wednesday, September 8, 2010

Snow Country: Daerah Salju


Snow Country: Daerah SaljuSnow Country: Daerah Salju by Yasunari Kawabata
My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 188 pages
Published 2009 by gagasmedia (first published 1947)
ISBN  9789797803681


Pernahkah kau mencuri pandang lewat pantulan kaca, entah itu di pintu kaca, jendela kaca, kaca pada jendela mobil, kaca spion, kaca lemari, atau apapun yang bisa memantulkan bayangan? Apa yang kau lihat dan rasakan?

Peristiwa ini adalah kisah awal novel ini. Dalam perjalanan ke suatu tempat yang indah alamnya, Shimamura memerhatikan seorang gadis yang ada di depannya dengan melihat melalui pantulan jendela kaca kereta api. Kecantikan gadis itu sungguh memesonanya. Bisa dibayangkan ketika Shimamura melihat ke luar, seharusnya pemandangan pohon-pohon dan pegunungan yang ia lihat, tetapi hal itu masih kalah menariknya dibanding wajah sang gadis. Kawabata menulis peristiwa itu sebagai berikut.
Langit di atas gunung masih menyisakan warna merah senja. Setiap benda masih jelas bentuknya di kejauhan, tetapi pemandangan gunung yang monoton, begitu-begitu saja mil demi mil, tampak menjemukan karena kehilangan warna. Tak ada yang menarik di luar sana, dan semuanya mengalir hambar. Tentulah itu karena tertimpa oleh wajah si gadis yang mengapung di atasnya. Pemandangan senja bergerak ajek di sekeliling garis wajah itu. Wajah itu juga tampak bening-tetapi, apakah ia benar-benar tembus cahaya? Shimamura melamunkan bahwa sesungguhnya pemandangan senja terus melintas wajah itu dan tidak pernah berhenti meyakinkannya bahwa memang begitulah yang terjadi.

Sunday, September 5, 2010

Batavia Kota Hantu


Batavia Kota HantuBatavia Kota Hantu by Alwi Shahab
My rating: 4 of 5 stars

234 pages
Published February 2010 by Penerbit Republika
ISBN  9789791102742


Ditulis oleh seorang wartawan senior pemerhati serius masalah sosial budaya kota Jakarta. Alwi Shabab lahir di Kwitang, Jakarta Pusat 31 Agustus 1936. Catatan Kwitang, konon berasal dari nama seorang Cina, Kwee Tiang Kam, yaitu penjual obat tradisional yang masyhur. Saking terkenalnya, kediaman penjual obat ini disebut Kwitang. ia telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Tahun 1960 ia bekerja kantor berita Arabian Press Board di Jakarta. Sejak Agustus 1963 ia bekerja di Kantor Berita Antara. Selama sembilan tahun (1969-1978), ia menjadi wartawan Istana. setelah pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan Harian Umum Republika.