Adam Harus Bicara

Sabtu, Juni 11, 2011

Judul: Adam Harus Bicara
Pengarang: Deshi Ramadhani, SJ
Editor: Satriyo
Desain cover: Adi Handoyo
Layout: Sungging
Tebal: 298 halaman
Penerbit: Penerbit Kanisius
ISBN13: 9789792128970

Ternyata Adam bukanlah gambaran lelaki ideal (h.33). Pernyataan ini membuat pembaca terkejut. Namun Deshi mengulas singkat apa alasannya menyatakan hal tersebut. Kembali ke kisah penciptaan, diceritakan bahwa ketika dosa muncul ketika manusia (Adam dan Hawa) memakan buah pengetahuan yang dilarang oleh Tuhan Allah. Lewat kisah penciptaan di Kitab Kejadian, yang bersalah adalah perempuan (Hawa) karena turut tergoda dan memberikan buah tersebut pada suaminya. Namun bila dikritisi, penyebab itu semua adalah tindakan Adam yang pasif. Sebagai orang yang ditugasi memberi nama-nama binatang, seharusnya Adam tahu bagaimana sifat binatang-binatang itu, Adam 'membiarkan' Hawa dalam ketidaktahuannya akan pengenalan pada binatang ular. Adam pun dikisahkan menyalahkan Hawa karena telah menyebabkan dirinya memakan buah itu. Dengan kata lain, Adam adalah orang yang pengecut.

Buku ini ditulis oleh Romo Yesuit yang sehari-harinya banyak bergaul dengan lelaki. Sedari usia belia ia sudah ikut pendidikan Yesuit yang semuanya adalah laki-laki. Selain itu, di keluarga besarnya, yang paling banyak adalah lelaki kecuali adiknya dan ibunya, termasuk keenam keponakannya adalah lelaki.


Buku ini terdiri dari 12 bab. Bab-bab tersebut mengidentifikasi siapakah lelaki itu? Romo Deshi melandaskan pemilihan istilah lelaki dalam tiga alasan. Pertama, pilihan istilah lelaki sekadar untuk menggemakan bahasa penciptaan manusia yang sudah cukup lazim digemakan. Kedua, mengembalikan arti istilah lelaki yang selama ini mengandung arti cenderung negatif, kasar, dan keras. Ketiga, merayakan diri lelaki itu sendiri. Di bawah pengaruh sekelompok feminis radikal, lelaki adalah sebuah musuh yang ditakuti. Karena itu, lelaki Romo Deshi berpendapat bahwa kata "lelaki" itu justru sebuah keluhuran yang perlu dicintai dan dipeluk sebagai sebuah keluhuran (h.27-29).

Setiap babnya dimulai dengan pengantar berupa kutipan baik itu dari Alkitab, maupun ucapan orang terkenal. Saya suka pengantar pada Bab 11:
When I fed the poor, they called me a saint.
When I asked, "Why are they poor?"
they called me a communist

(Uskup Don Helder Camara)

Menimbang-nimbang bagaimana para bawahan yang setia harus memberi jawaban kepada raja yang begitu besar kerelaannya untuk berkorban dan cintanya kepada sesama. Maka dari itu alangkah pantas dicela oleh seluruh umat dan dianggap ksatria pengecut orang yang menolak tawaran raja itu.
(Santo Ignasius Loyola dalam Latihan Rohani No.94).

Peran laki-laki yang sudah jelas dalam kehidupan manusia adalah sebagai Ayah, Putra, Saudara, dan Suami. Dalam tiap peranan ini, laki-laki memiliki kelemahan sekaligus kekuatan. Justru seringkali laki-laki tidak berhasil mengidentifikasi serta mengantisipasi risiko kelemahan mereka. Hal itu berdampak pada orang-orang sekeliling mereka. Deshi memaparkan bahwa beberapa kelemahan peran laki-laki tersebut, yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai ayah: ketidakhadiran ayah dalam keluarga menyebabkan anak lelaki meragukan kualitas lelaki dewasa, dan semakin mereka tidak memiliki gambaran ideal tentang masa depan mereka sebagai lelaki dewasa. Ayah hadir dalam keluarga, namun tidak berhasil membangun relasi pribadi dengan anak-anaknya.

2. Sebagai putra: Anak lelaki dengan sadar berinisiatif melakukan inisiasi (memberi identitas diri) dari seorang bocah menjadi seorang pecinta (atau lebih tepatnya, seorang lelaki yang bisa bercinta di tempat tidur) secara sendiri atau bersama kelompok teman-teman dekatnya.

3. Sebagai saudara: Ikatan pertemanan di antara para lelaki tidak dijalin dengan menempatkan mereka untuk duduk bersama dan begitu saja saling berbagi. Mereka bisa saja melakukan ini-itu, tetapi hal itu tidak akan menciptakan sebuah bonding, ikatan, yang bertahan lama.

4. Sebagai suami: Banyak suami hanya berpandangan seolah mereka berhak untuk ditaati secara buta begitu saja oleh istri mereka.

Inilah yang menjadi kegalaun Deshi. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia mencoba memberikan sudut pandang sebagai putra dan sebagai saudara.  Deshi menuliskan bahwa terdapat gejala bahwa wilayah tugas lelaki adalah dalam hal-hal bersifat jasmaniah: mencari uang, memberi makan, membangun rumah, menyelesaikan proyek, mengumpulkan dana dan seterusnya. Sementara itu banyak kesalahan-kesalahan lelaki (seperti contoh di atas) yang seringkali tidak 'dikoreksi' oleh sesama lelaki. Deshi memberitahukan bahwa ada spiritualitas lelaki, dimana lelaki bukanlah sekedar mengerjakan tugas-tugas jasmani saja. Deshi menambahkan:
Kepada kita para lelaki, sebenarnya dipercayakan sebuah misi besar untuk menyadarkan sesama lelaki tentang hal ini. Untuk itu, kita perlu terlebih dulu memeluk erat identitas kita sebagai lelaki spiritual. Lelaki yang terus berkontak dengan Tuhan (h.277-278).
Deshi menggunakan  pengamatan maupun pengalaman pribadi dalam penyampaian contoh-contoh kasus yang dialami oleh laki-laki. Sebagai anak, ia menyaksikan ayahnya yang sedikit memberi waktu, sebagai seorang yang memiliki saudara laki-laki, ia diantar pulang oleh kakaknya ke seminari di Jogja dari pulang menonton film di Magelang. Selain itu, dari buku-buku referensinya, kita dapat mengetahui apa yang menjadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, dari bukunya Ayu Utami, "Empat Dekade (seorang) Perempuan Membaca Media," diketahui bahwa "Dalam majalah wanita, tubuh model menonjolkan fesyen. Dalam majalah pria, fesyen menonjolkan tubuh model". Lebih tegas lagi: "Wajah wanita adalah mutlak bagi wajah wanita, tapi tubuh wanita lebih mutlak bagi majalah pria."

Dari daftar pustaka, Deshi banyak menggunakan buku-buku referensi sebagai acuan untuk membuat buku ini.  lebih dari 80% buku yang digunakan, adalah buku berjudul Inggris. Bukan bermaksud untuk 'merendahkan' kualitas buku lokal, namun mungkin buku lokal kita masih sedikit yang membahas tentang laki-laki. Selain itu, apakah ini karena masalah ketiadaan penelitian di Indonesia tentang laki-laki? sebab seringkali masalah yang lebih rill itu muncul di kehidupan kita bangsa Indonesia yang kaya dengan kebudayaan lokal.

Yang terpenting setelah membaca buku ini adalah, bagaimana saya berkontekstualisasi dengan masyarakat pria di sekitar saya. Bagaimana saya berhadapan dengan masyarakat yang masih mengagung-agungkan keharusan adanya keturunan laki-laki di pihak keluarga? Siapa yang harus berubah? Laki-lakinya? atau adat/budayanya? permasalahan ini masih terus akan ada dan berdiam di masyarakat, terutama masyarakat patriaki. Mungkin ini yang perlu mendapat perhatian di edisi mendatang atau bacaan-bacaan topik sejenis di masa mendatang. Namun, saya menyambut baik kehadiran buku ini, saya sependapat dengan apa yang disampaikan Deshi pada kata pengantarnya:

Salah satu kebijaksanaan kuno mengatakan," Ada dua hal yang bisa dilakukan terhadap sebuah pertanyaan. yang pertama adalah memberikan jawaban terhadap pertanyaan itu. Yang kedua adalah memberikan kemungkinan rumusan pertanyaan yang lebih baik. Pertanyaan yang lebih baik sudah menjadi separo dari jawaban yang diinginkan." 
Tambahan dari saya: mencari tahu dengan aktif apa jawabannya :)

@hws11062011

You Might Also Like

1 komentar