Friday, August 31, 2012

Max Havelaar



Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
(Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887)

Mungkin penyakit yang paling berbahaya tidak akan ditemukan di laboratorium, tetapi dalam semesta kehidupan, dan penyakit itu bernama korupsi. Penyakit tersebut telah lama ada, dan dengan sukses membiakkan dirinya dari generasi ke generasi. Eduard Douwes Dekker yang dikenal dengan nama pena Multatuli, menulis novel ini dengan protagonis Max Havelaar. Max Havelaar adalah seorang asisten residen di Lebak (sekarang masuk Provinsi Banten). Havelaar menggantikan asisten sebelumnya yang tewas terbunuh, Slottering. Sebelumnya, Havelaar bertugas sebagai asisten residen di Natal (sekarang masuk Provinsi Sumatra Utara). Dan pengalaman tersebut diceritakan kembali oleh Multatuli melalui karya fiksi ini.

Max Havelaar
atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda
Penulis: Multatuli
Terjemahan: H.B. Jassin
Pendahuluan dan Anotasi: Drs. Gerard Termorshuizen
Penerbit: Djambatan (cet keempat, 1977)

Wednesday, August 15, 2012

Dollhouse: Kardashian Sister


Tiap orang memiliki kisah sendiri. Meski kisah itu sama, namun sering dimaknai berbeda oleh yang mengalami langsung maupun yang tidak mengalaminya. Dan entah kenapa mengapa kita lebih tertarik menyaksikan kehidupan orang lain dan membicarakannya alih-alih membagikan hidup kita sendiri? Sebuah acara reality show di Amerika mengemas kehidupan tiga bersaudara Kourtney, Kim, dan Khloe. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh apa relevansi masalah-masalah pada kehidupan mereka dengan kehidupan kita sendiri. Apakah itu masalah real mereka atau hanya arahan dari penulis skenario?

Dollhouse: Kourtney, Kim, Khloe Kardashian
Penerjemah: Inosensus Rotorua
Editor: Tim Esensi
Desain Sampul: Satrio A.B
Penerbit: Esensi (2012)
ISBN: 978-602-7596-11-5


Friday, August 3, 2012

Selamat Berkarya


Saya teringat pada suatu kejadian di sebuah kelas bimbingan ketika saya masih SMU. Instruktur atau biasa disebut tentor bercerita pada kami: " Dek, kalau anak bayi, gitu lahir, apa yang dilakukannya? menangis bukan?" Kami mengiyakan. "Kalau abang enggak gitu dek, begitu abang lahir dari kandungan mamak abang, abang nggak langsung nangis, tapi mikir dulu, mau jadi apa aku besar nanti." Kami sekelas tertawa, menertawakan sesuatu yang dulu tampaknya lucu. Namun, itulah pertanyaan mendasar hidup kita. Dalam salah satu tulisannya Andar mengatakan bahwa ada tiga hal mendasar tentang hidup yang ada pada kita. Pertama, untuk apa aku hidup? kedua, mau jadi apa aku dalam hidup? dan ketiga, dengan siapa nanti aku hidup? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menuntun kita pada satu pencarian jawaban. Perncarian jawaban tersebut membutuhkan perjalanan yang cuku panjang, ada kalanya mempertanyakan kembali, ada kalanya berhenti sejenak, dan mungkin ada yang malah berbalik.

Renungan-renungan tulisan Andar tentang bekerja membawa kita pada penemuan akan pertanyaan untuk apa kita hidup. Dan jawabannya untuk bekerja. Bekerja karena apa dan untuk apa? Bekerja karena merupakan hidup kita dan bekerja untuk memberi manfaat pada kehidupan itu sendiri. Karena itu tetaplah bekerja dan beri pengaruh pada dunia.