Wednesday, September 19, 2012

Gandamayu



Gandamayu adalah sebuah novel yang ditulis oleh wartawan Kompas, Putu Fajar Arcana. Dari cover novel ini ada tiga objek yang menjadi bagian novel ini. Pertama siluet ayah dan anak dan sebuah sepeda. Hal ini merefleksikan Putu Fajar Arcana sebagai anak yang dibawa berkeliling oleh ayahnya dengan sepeda ke desa-desa di Bali. Selain sebagai petani, ayah Arcana adalah penembang yang seringkali dipanggil ke desa-desa tetangga untuk menembang pada acara ruwatan. Kedua, adalah pohon waru. Pohon Waru ini adalah pohon dimana Sahadewa diikat oleh Kalika ketika ia ditawan di hutan setra Gandamayu. Ketiga adalah mata? saya sendiri tidak tahu apa maknanya.

Bagi yang sudah mengetahui kisah Mahabharata, maka tidak sulit memahami cerita pada novel ini. Pertarungan antara Pandawa dan Kurawa di medan Kurusetra, memperoleh porsi terbesar dalam cerita ini. Namun, yang menjadi sorotan utamanya bukanlah semata-mata kisah heroik pertarungan tersebut. Namun peranan wanita di dalamnya. Suatu rekonstruksi cerita yang menarik bila cerita klasik Mahabharata tersebut ditinjau dari kacamata kekinian. Pertanyaan mendasarnya ialah: Apakah sebuah kebijakan itu menjadi bijak jika yang mengambil adalah pihak mayoritas/superior?

Mengapa kegelisahan tersebut muncul? barangkali penyebab utamanya dalam prakteknya seringkali sebuah kebijakan tanpa tujuan yang jelas dan kebijakan tersebut adalah sesuatu hal yang diambil dari satu sudut pandang saja, tanpa menimbang dari sisi lain. Akibatnya, 'kebijakan' tersebut menjadi tak hidup dan cenderung merugikan satu pihak.

Monday, September 17, 2012

Recipes for a Perfect Marriage



Apakah artinya perkawinan? apa hakikat sebuah perkawinan? bagaimana kita memandang perkawinan? pertanyaan-pertanyaan demikian mungkin sama klasiknya dengan pertanyaan tentang pencarian makna dan pengertian cinta dari zaman dahulu. Tidak ada jawaban yang pasti, karena itulah pertanyaan tentang kedua hal itu terus menerus digaungkan hingga saat ini. Dan setiap orang tentunya punya pemaknaan tersendiri akan cinta dan perkawinan.

Karena itu, studi dan kajian mengenai lembaga perkawinan beserta dampak-dampaknya juga tidak habis-habis. Sebuah studi bertajuk: Does Marriage Really Make People Happier? yang dilakukan oleh Dr Kelly Musick, Associate Professor dari Cornell University  menguji apakah lebih berbahagia orang yang menikah dibanding orang yang hidup bersama (cat. kemungkinan dalam bahasa kita: kumpul kebo) menyimpulkan bahwa tingkat kebahagiaan orang menikah dan hidup bersama di atas orang yang single. Selanjutnya orang yang hidup bersama lebih bahagia daripada orang yang menikah sebab tak perlu repot dengan berbagai konsekwensi sosial dan lebih fleksibel, otonom, dan memungkinkan pertumbuhan masing-masing pribadi.